4 Fakta Tentang Mendengkur atau Ngorok Saat Tidur

fakta mendengkur atau ngorok saat tidur

Tidur mendengkur atau ngorok merupakan suatu gejala dari terjadinya gangguan tidur yang sangat serius. Jika dengkuran semakin keras, maka semakin serius juga gangguan tidurnya. Padahal suatu mitos menganggap kalau tidur mendengkur atau tidur ngorok merupakan salah satu bukti dari tidur yang pulas dan nyenyak. Hal ini merupakan hal yang salah. Dalam dunia medis, tidur mendengkur merupakan suatu gejala dari satu penyakit. Tahukah Anda bahwa hampir dari separuh orang dewasa yang normal, kadang akan mendengkur dan 25 persennya akan mendengkur secara rutin. Dibandingkan dengan perempuan, pria lebih sering mendengkur.

Sleep apnea bisa juga ditandai dengan timbulnya dengkuran saat tidur. Oleh sebab itulah tidur mendengkur perlu diketahui penyebab utamanya.

Tidur mendengkur alias ngorok tidak hanya mengganggu karena suaranya yang berisik, tetapi juga menyimpan bahaya. Sebagian besar orang yang ngorok juga mengalami sleep apnea atau henti napas saat tidur.

Henti napas saat tidur bisa terjadi tanpa disadari hingga ratusan kali saat tidur. Akibatnya, kualitas tidur berkurang karena suplai oksigen ke otak maupun bagian tubuh yang lain tidak maksimal. Dalam jangka panjang, tentu berdampak pada berbagai fungsi organ.

Beberapa hal yang jarang diketahui tentang sleep apnea antara lain sebagai berikut :

  1. Ngorok Bisa Diwariskan

Adam Amdur (41), seorang pria di Florida meyakini punya sleep apnea sejak kecil meski baru terdiagnosis di usia 35 tahun. Pada anak Amdur, dokter menemukan beberapa kemiripan struktur yang diturunkan seperti dagu yang turun, tonsil besar, dan rahang atas yang terlalu maju. Kondisi tersebut meningkatkan risiko sleep apnea pada si anak.

Diperkirakan 4 persen anak punya sleep apnea, termasuk bahkan di usia 2 tahun. “Tentu saja ini bisa menurun,” kata Shalini Paruthi, MD dari American Academy of Sleep Medicine.

  1. Perempuan Juga Bisa Ngorok

Banyak orang mengira sleep apnea cuma penyakit para laki-laki. Kenyataannya, World Congress on Sleep Medicine menyebut 4 persen laki-laki dan 2 persen perempuan di Amerika Serikat mengalami sleep apnea.

  1. Jangan Dianggap Tak Berbahaya

Banyak orang menjadikan ngorok sebagai bahan bercanda. Bisingnya memang menyebalkan, tetapi ada bahaya yang lebih serius di belakangnya. Partner tidur tentu tidak jarang menjumpai pasangannya yang ngorok, tiba-tiba tersedak saat sedang tidur. Dari keluhan inilah biasanya dokter menemukan diagnosis sleep apnea.

  1. Tak Selalu Harus Gemuk

Tracy Nasca, seorang pengidap sleep apnea di Chicago meyakini berat badannya yang berlebih setelah melahirkan anak-anaknya turut berkontribusi pada gangguan tidur yang dialaminya. Namun ia tetap mengalami sleep apnea, padahal sudah menjalani operasi bariatri untuk menurunkan berat badan.

Shalini Paruthi, MD, dari American Academy of Sleep Medicine mengatakan bahwa seseorang yang obesitas punya risiko lebih besar untuk sleep apnea. Tapi ia mengakui pernah merawat beberapa orang yang tubuhnya kurus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *